Dari ketinggian 1000 m sebelum landing di Bandara Depati Amir Pangkal Pinang terlihat genangan air danau dan tanah putih yg menganak sungai. Dibeberapa bagian tersebar acak berdesakan dengan hutan menghijau, itulah sisa-sisa aktivitas pertambangan timah di pulau Bangka. Saat menyusuri kota Pangkal Pinang betapa terkejutnya saat melintas di ruas jalan bertuliskan Jl KH Abdurrahman Siddiq, pikiranku langsung teringat dengan nama besar itu, beliau yang bergelar Guru Sapat, Mufti Kerajaan Inderagiri Riau, Keturunan ke 3 Syeikh Muhammad Arsyad albanjari (lihat tulisan jejak Banjar di Tembilahan). Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad ‘Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banzari yang lahir di Kampung Dalam Pagar, Martapura Kalimantan Selatan, 1857 M/1284 H. Wafat di Sapat, Tembilahan Riau, Tahun 1939 M/1366 H.Gr Sapat
Menurut Bapak Han/M Fitri Ketua Rx 01 Kel Semabung Lama, urang Banjar banyak disini tapi menyebar saja, dikenal sebagai guru mengaji dan ulama. Ada juga STAIN KH Abdurahman Sidiq di Pangkal Pinang utk mengabadikan jasa dan perjuangan beliau. Rupanya pengaruh Guru Sapat juga sampai di Bangka Belitung, dan memang beliau sempat juga berdakwah sampai ke Bangka Belitung dan bermukim selama 15 tahun di Bangka.
Masih ada keturunan Guru Sapat yang sering diziarahi yaitu Makam Syeikh Kotamarasit di kampung Baqi sekitar 3 jam dari Pangkal Pinang. Makam ini sering diziarahi oleh kaum muslimin dari Babel dan juga Sumatera Selatan terutama pada hari-hari tertentu, misalnya menjelang ramadhan.