Kampung banjar di Gorontalo hanyalah sebuah jalan sepanjang 300m yang terletak di Kampung Bugis, dulunya bernama Jalan Banjar, tetapi sekarang sudah berganti nama menjadi Jalan Farid Liputo kecamatan Kota Timur. Kurang jelas mengapa berganti nama tetapi menurut tommy sopir bentor yang saya tumpangi, sebagian penduduk jalan banjar direlokasi karena posisinya yang tepat disisi Sungai Bone sehingga menjadi langganan banjir tahunan. Menurut H Arbi komunitas Banjar disini sudah membaur dengan masyarakat, mereka kawin mawin dengan etnis setempat dan mayoritas bekerja sebagai pedagang di pasar tua dan tukang lemari atau pembuat meubel yang piawai (bubuhan palampitan Amuntai, kira-kira.. hee).
Tidak jelas kapan dan bagaimana awal mula komunitas banjar tersebut bermukim di “provinsi jagung” yang baru berusia sewindu setelah pemekaran dari Sulawesi Utara, 16 Feb 2001. Salah seorang keturunan Banjar, ince atau Rahmawati Ghani yang juga karyawan Hotel Quality menuturkan bahwa opa-nya berasal dari Kampugn Kuin di Banjarmasin, sedangkan oma-nya asli Gorontalo. Tidak ada peninggalan yang monumental dan otentik terkait migrasi Banjar di “Provinsi Inovasi” yang sering dikunjungi Pemda daerah lain karena keberhasilan reformasi birokrasi dan pengelolaan keuangan daerah ini. Semoga dengan tulisan ala kadarnya ini silaturahim Banjar di perantauan tetap terjaga, khususnya di Gorontalo yang juga terkenal dengan kain karawangnya.