Take off dari Bandara Selaparang Mataram jam 06.05 Wita, pilot mengarahkan moncong pesawat ke barat Nusantara, ke Jakarta tepatnya.  Penerbangan yg menyenangkan dan pemandangan alam yg terbentang terlalu menakjubkan untuk diabaikan, selama perjalanan gugus pegunungan yg saling berlipat, deretan gunung batu cadas gersang diselingi lipatan lembah curam seolah hamparan jeroan sapi raksasa yg terbentang, aku tak tau entah rahasia apa yg ada dibalik lembah curam itu… subhannallah, tak henti aku memujiMU saat di timur matahari yg menyinari bagai lukisan garis hitam putih menghijau seolah guratan alam terbentang yang nampak tegas. Merasa kecil diriku saat tepat berada diatas kepundan puncak gunung berapi Rinjani, 3.726 dpl dan Gunung Tambora 2.852 dpl, sekilas tdk aktif.  Namun tegar dan gagah dalam kekuasaanNYA seakan moncong coklat hitam itu akan menyentuh lambung pesawat. Dikejauhan tampak selat lombok dan jazirah nusa tenggara nan indah. Sedetik kemudian terlihat Pulau Bali dikejauhan membentang, lautan dalam yg tak lain adalah selat lombok dan deretan pulau kecil, saat yang sama deretan awan cumulus yg sporadis menguak keindahan bentang alam pulau dewata, disapa puncak gunung seolah menara alam yg memandu para pengembara agar tak tersesat celaka.

Banyak teksbook menyebutkan bahwa Indonesia adalah Negara yg dilintasi Ring of Fire atau sabuk gunung berapi, sehingga rawan gempa & bencana. Indonesia termasuk negara dengan gunung api terbanyak, tercatat 240 gunung berapi dan 70 diantaranya masih aktif. Diketinggian 34 ribu kaki atau 3,4 km dpl (diatas permukaan laut) ini kulihat potongan kecil sabuk gunung berapi itu. Berbahaya sesungguhnya buat manusia tetapi indah dipandang mata. Rawan buat kita tetapi menawan buat pelancong dan wisata. Terima kasih Yaa Allah, Kau telah izinkan hambaMu menyaksikan setitik dari kebesaran ciptaanMu yang indah mempesona tiada tara. Tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia.