Februari 2009


Seni dan berkesenian merupakan ekspresi budaya yang memperhalus akal budi dan ciri jati diri sebuah bangsa. Urang Banjar yang berbudaya punya hak asasi untuk eksis dan diakui oleh suku bangsa diseluruh dunia. Wadai bingka, kakicak, kakoleh, gaguduh, sarabi, apam batil, apam barabai, bingka barandam, atau silakan haja ke warung 41 di Cempaka, 41 macam wadai ada disana. Hanya Soto Banjar dan kain sasirangan yang sudah menjadi ikon wisata kuliner dan souvenir di Banua Kalimantan Selatan. Itu baru budaya kuliner tradisional Banjar. Belum lagi budaya kesenian seperti Mamanda, Balamut, Madihin, Wayang Banjar, Musik panting, dll. Rumah Banjar dan relief Banjar di bangunan pemerintah atau swasta sudah mulai nampak ornamennya. Bahkan monumen budaya Banjar yang sesungguhnya belum ada, seperti dulu Kuin dan Sungai Andai adalah kampung Budaya, dulu sepanjang jalan A. Yani km 1 sampai km 6 adalah landmark kampung Banjar yang sungainya lebar dan bisa dilalui jukung. Manna banjarnya jar? Kalau naik angkot di Padang kita diringi lagu Minang, tapi kita tidak temui lagu Banjar di angkot taxi kuning, apalagi mancari sungkul awan batulis, he he.. (lebih…)

Kampung banjar di Gorontalo hanyalah sebuah jalan sepanjang 300m yang terletak di Kampung Bugis, dulunya bernama Jalan Banjar, tetapi sekarang sudah berganti nama menjadi Jalan Farid Liputo kecamatan Kota Timur. Kurang jelas mengapa berganti nama tetapi menurut tommy sopir bentor yang saya tumpangi, sebagian penduduk jalan banjar direlokasi karena posisinya yang tepat disisi Sungai Bone sehingga menjadi langganan banjir tahunan. Menurut H Arbi komunitas Banjar disini sudah membaur dengan masyarakat, mereka kawin mawin dengan etnis setempat dan mayoritas bekerja sebagai pedagang di pasar tua dan tukang lemari atau pembuat meubel yang piawai (bubuhan palampitan Amuntai, kira-kira.. hee).
(lebih…)

Take off dari Bandara Selaparang Mataram jam 06.05 Wita, pilot mengarahkan moncong pesawat ke barat Nusantara, ke Jakarta tepatnya.  Penerbangan yg menyenangkan dan pemandangan alam yg terbentang terlalu menakjubkan untuk diabaikan, selama perjalanan gugus pegunungan yg saling berlipat, deretan gunung batu cadas gersang diselingi lipatan lembah curam seolah hamparan jeroan sapi raksasa yg terbentang, aku tak tau entah rahasia apa yg ada dibalik lembah curam itu… subhannallah, tak henti aku memujiMU saat di timur matahari yg menyinari bagai lukisan garis hitam putih menghijau seolah guratan alam terbentang yang nampak tegas. Merasa kecil diriku saat tepat berada diatas kepundan puncak gunung berapi Rinjani, 3.726 dpl dan Gunung Tambora 2.852 dpl, sekilas tdk aktif.  Namun tegar dan gagah dalam kekuasaanNYA seakan moncong coklat hitam itu akan menyentuh lambung pesawat. Dikejauhan tampak selat lombok dan jazirah nusa tenggara nan indah. Sedetik kemudian terlihat Pulau Bali dikejauhan membentang, lautan dalam yg tak lain adalah selat lombok dan deretan pulau kecil, saat yang sama deretan awan cumulus yg sporadis menguak keindahan bentang alam pulau dewata, disapa puncak gunung seolah menara alam yg memandu para pengembara agar tak tersesat celaka.

(lebih…)