Saat menginjakkan kaki di Bandara Selaparang Mataram Nusa Tenggara Barat pekan lalu. Ulun membayangkan bisa menemukan serpihan jejak urang Banjar di Bumi GORA-Gogo Rancah yang dikenal religius dengan komunitas Suku Sasak sebagai suku terbesar di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, Provinsi penghasil mutiara: Nusa Tenggara Barat. dscn3024dscn3032

Bertemulah dengan H Murad bin H Rais Bin H Abdullah yang ternyata masih enerjik sekalipun sudah berusia 86 tahun. Beliau adalah salah seorang dari 2 orang tatuha Banjar yang masih hidup dan satu lagi H Hamzah Karim 86 tahun yang tinggal di pasar Ampenan. Sidin lalu berkisah tentang Silsilah Urang Banjar yang bermula dari 4 orang yang merantau ke Pulau Lombok dari Banjar diakhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. 3 orang ke Pulau Lombok yaitu Kai Awang, H Abdullah yang juga Kakek H Murad dan satu lagi beliau lupa. Sedangkan 1 orang lagi melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumbawa.

Dari sopir taksi Lendang karun yang asli Suku Sasak ulun diberitahu bahwa mayoritas urang Banjar di Pulau lombok ini berprofesi sebagai pedagang dan tukang jahit serta menjadi tuan guru. Benarlah adanya saat melanjutkan ceritanya H Murad Rais mengatakan bahwa urang Banjar nang ada di Ampenan itu berdagang di Pasar Ampenan dan menjadi penjahit. Dan salah satu alasan 4 orang yang merantau dulu disamping menjadi berdagang dan penjahit adalah berdakwah untuk menyebarkan Islam di Pulau Lombok yang saat kedatangan mereka dulu penduduk Lombok masih mayoritas beragama Hindu Bali, karena memang dari pelabuhan Lembar Mataram hanya diperlukan waktu 4 jam menyeberang ke Pulau Bali.

TGH Abdullah atau Kakek H Murad yang asli urang Banua Anyar Banjarmasin ini merantau ke Ampenan dan saat itu Penjajah Belanda memberi sebuah lahan dekat Pelabuhan Ampenan yang kemudian berkembang menjadi Kampung Banjar atau Lingkungan Banjar. Saat ulun menelusuri kampung Banjar di Ampenan memang masih ada jejak Banjar yang monumental yaitu sebuah Masjid Nurul Qomar yang dibangun tahun 1916 oleh warga Banjar. Masjid yang direnovasi tahun 1981 ini tidaklah besar dan megah tetapi layaknya sebuah Langgar saja namun inilah saksi sejarah perjuangan dakwah urang Banjar untuk menyebarkan Islam di Pulau Lombok dan Nusantara.

Dulu ada kerukunan keluarga kalimantan (K3) di Mataram tetapi sayang menurut H Murad damini kadada lagi nang maurusi. Dan urang Banjar pun sudah mulai jarang yang berdagang di pasar Ampenan karena sebagian sudah ditukari urang China. Ini juga imbas dari pemindahan Pelabuhan Ampenan ke Lembar yang berjaya sampai tahun 70-an sebagai pelabuhan internasional, tetapi kini hanya puing-puing dan cerucuk serta bangunan gudang tua yang tersisa di tepi keindahan pantai Ampenan sampai pantai Senggigi.