Khutbah Jumat 5 Ramadhan di masjid Arrahman-Melayu Banjarmasin

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.

(QS. 3. Ali Imraan:123)

P

ada Bulan Ramadhan banyak terjadi peristiwa besar bersejarah. Bulan ini dikenal oleh kaum muslimin sebagai Bulan penuh berkah dan hidayah. Bulan yang terbukti sepanjang sejarah memberi kemudahan dan keberuntungan dalam berbagai sisi kehidupan bagi kaum muslimin.

Keberkahan itu tampak dari sekian banyak kemenangan besar yang diraih kaum Muslimin, justru di saat mereka tengah menjalani puasa Ramadhan. Keletihan dan kelelahan berpuasa justru menumbuhkan ruhul jihad dan semangat pengorbanan yang tinggi sehingga menghasilkan kekuatan yang besar.

Perang Badar Al Kubro.

Salahsatu peristiwa penting dalam lembaran sejarah adalah kemenangan gemilang Perang Badar pada hari Jumat tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah. Terjadinya peperangan ini semula tidak diduga karena kaum muslimin hanya bermaksud mencegah kafilah dagang Quraisy dari Syam yang dipimpin oleh Abu Sufyan sebagai ganti harta benda mereka yang dirampas di Makkah. Sementara, kaum kufar pun semula hanya sekedar ingin pamer kekuatan. Akan tetapi rupanya Allah Ta’ala menghendaki ghanimah dan kemenangan yang lebih besar lagi bagi kaum muslimin dengan cara dan tindakan yang lebih meyakinkan. Allah SWT meloloskan kafilah dagang Quraisy itu dari usaha pencegatan dan menggantinya dengan peperangan besar yang tidak mereka duga sebelumnya.

Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedangkan kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musrik) itu tidak menyukainya. (QS. 8. Al Anfaal:7-8)

Abu Sufyan telah mengirim seorang kurir ke Makkah memberitahukan bahwa kafilahnya telah selamat akan tetapi, Abu Jahal tetap bersikeras untuk melanjutkan perjalanan yang diikuti oleh seluruh pentolan kafir Quraisy minus Abu lahab ini. Dengan congkak ia berkata, “Demi Allah kami tidak akan pulang sebelum tiba di Badar. Disana kami akan tinggal selama tiga hari, memotong ternak, makan beramai-ramai, dan minum arak sambil menyaksikan biduan wanita menyanyikan lagu-lagu hiburan. Biarlah seluruh orang Arab mendengar tentang perjalanan kita dan kebesaran kita agar mereka gentar kepada kita selamanya.

Kaum kafir Quraisy saat itu yang jumlahnya 1000 pasukan. Mereka memang sangat yakin akan menang. Mereka kelewat percaya diri dengan kekuatan yang mereka miliki secara sempurna baik pasukan., persenjataan, logistik, maupun kemampuan tempur. Sementara kaum muslimin mereka anggap remeh dan hina serta tidak akan melawan karena dari segi kekuatan sangat kecil dan lemah sekali.

Mendengar keberangkatan pasukan kafir Quraisy menuju Badar Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersama para sahabat tampak berserah diri, tegar, dan penuh pendirian seraya menyiagakan diri. Pada saat bersamaan mereka merendahkan diri di hadapan Allah. Pada malam jum’at itu mereka semuanya sama-sama bertaqarub dengan doa-doa munajat beristighosah memohon pertolongan dengan penuh keikhlasan dan kerendahan diri, tidak terkecuali Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam di dalam Arisy semacam kemah beliau dengan khusyu memanjatkan doa. Menengadahkan kedua telapak tangan beliau ke langiut tiada henti, airmata beliau berderai, diantara doa yang beliau baca ialah,

“Ya Allah, kaum Quraisy kini telah datang dengan segala kecoingkakan dan kesombongannya untuk memerangi Engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau berikan kepadaku. Ya Allah kalahkan mereka esok hari”.

Dalam munajat dan istighotsahnya itu bahkan Nabi sampai tidak menyadari kalau selendangnya jatuh. Abu Bakar yang berada di sebelahnya memakaikan selendang itu kembali. Sepanjang malam itu, beliau tidak henti-hentinya bermunajat dan beristighosah karena merasa iba Abu Bakar berusaha melunakkan hati nabi dan memberanikan diri berkata,

“Cukup ya Rasulullah sesungguhnya Allah pasti akan menunaikan janjinya yang telah diberikan kepadamu.

Kekuatan istianah dan tadaru’ kepada Allah dengan munajat dan istighosah di atas ternyata menghasilkan izzah dan kemuliaan yang membuat wajah Dunia tertunduk kepadanya. Pada pagi hari Jum’at itu kaum muslimin yang hadir tanpa persiapan dan tanpa dukungan sarana yang baik ternyata mampu melibas musuh yang dari segi jumlah, persenjataan, logistik, kemampuan.. lebih dari tiga kali lipat di atasnya. Allah berfirman. Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (QS. 3. Ali Imraan:123)

Fathu Makkah

Menyusul kemenangan gemilang di perang Badar pada tanggal 20 ramadhan 8 H, kaum muslimin bersama Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam berhasil menaklukan kota Makkah. Peristiwa yang dikenal dengan Fathu Makkah ini menjadi fondamen bagi kemenangan-kemenangan Islam di seluruh belahan bumi di kemudian hari.

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS. 110. An Nasr:1-3)

Sejarah kemenangan kaum muslimin pada Bulan Ramadhan pun menjadi panjang… Salahsatu contoh lain, pada tanggal 28 Ramadhan Tahun 92 H kaum muslimin mulai melakukan ekspansi dakwah ke semenanjung liberia yaitu Spanyol (Andalusia) dan Portugis dipimpin Panglima Thariq bin Ziyad sehingga salahsatu bukit pegunungan yang ditaklukannya dikenal dengan Jabal Thoriq (Gibraltar).

Peperangan yang dahsyat terjadi antara kaum muslimin di bawah pimpinan Saifuddin Qutuz dengan tentara Tartar dipimpin raja Ghotia pada tanggal 25 Ramadhan 658 H. peperangan ini disebut Perang Ain Jaluth karena lokasinya di kota Ain jaluth palestina. Pada Oktober 1973 Mereka pecah perang Arab israel. Dalam perang ini Arab berintikan tentara mesir dan Suriah dapat melumpuhkan tentara Israel yang mendapat sokongan dana, tenaga, dan persenjatan modern dari Zionis internasional. Benteng barlev israel dapat dihancurkan tentara Mesir. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 9 Ramadhan 1393 H .

Dan keberadaan Bulan Ramadhan kesekian kalinya memberikan berkah khsususnya Ummat Islam di Indonesia. Tanggal 17 Agustus 1945, hari deklarasi kemerdekaan negeri ini dari penjajahan – bertepatan dengan suasana puasa. Tepatnya pada hari Jumaat 9 Ramadhan 1364 H.

Puasa yang mengabadikan peristiwa turunnya Alqur-an juga peristiwa-peristiwa besar lain adalah sejarah hidup yang bisa dibaca, disimak., dan dilihat hingga saat ini. Orang-orang yang menjalankan ibadah puasa seakan-akan diajak memasuki suasana bersejarah waktu itu. Mereka bisa bangga, terharu, menangis, tertawa, dan sebagainya.

Dengan begirtu, mental mereka menjadi bersemangat dan pikiran menjadi segar kembali, tak ubahnya setelah membaca novel dan cerpen atau menonton kisah-kisah kepahlawanan.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. 12. Yusuf:111)

Barangkali karena ini orang yang berpuasa digelari As Saaikhun yang berarti pengembara, kelana, dan orang yang berwisata. Mereka berkelana ke Dunia lalu dalam rangka mendidik dan memperhalus nurani saat ini. Maha benar Allah yang telah berfirman

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, memuji (Allah), yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu. (QS. 9. Attawbah:112)