Kebijakan dan pengelolaan energi nasional yang carut marut didakwa menjadi penyebab hancurnya lingkungan hidup dan ekploitasi membabi buta sumberdaya alam energi. Tak terkecuali di Kal sel, lubang-lubang besar bahkan kawah raksasa yang mengaga dan siap menelan anak negeri lalu tenggelam hilang tak berbekas. Truk-truk raksasa merajai jalan negera, melindas setiap yang bernyawa menjadi pemandangan mengerikan yang hanya terjadi di banua kita saja. Coba tanya penduduk di nusantara, adakah truk pengangkut hasil tambang yang bisa bebas melenggang dijalan raya ditempat mereka? Bahkan deru mesin industri yang seolah tak pernah henti disepanjang jalan negara, kecuali hanya terjadi di wadah kita Banua Banjar ngini haja, nang ai…

Kebijakan energi yang terlambat ujar kawan saya..! bahkan tak punya visi..

quo vadis/mau kemana? Mau diapakan batubara kita, apakah dijual gelondongan mentah begitu saja? Apakah kita ingin mengulangi tragedi kayu yang kita jual log-log-an, dan kita tidak dapat apa-apa kecuali PHK besar-besaran karena bangkrutnya perusahaan kayu estela minimnya bahkan habisnya bahan baku kayu itu. Tragis: kita belum sempat menginvestasi SDA menjadi SDM, penda masih pelit memberi beasiswa untuk anak banua ini sekolah sampai jenjang tertinggi.

Konon katanya China mengimport besar-besaran batubara kita bukan untuk dikonsumsi Semarang, tetapi ditumpuk sebagai cadangan energi 50-100 tahun yang akan datang. Mereka sadar energi itu bisa menjadi malapetaka dunia, bahkan perang saat ini dan masa depan adalah memperebutkan sumber-sumber energi. Alasan sesungguhnya Amerika menyerang Irak bukan ingin membunuh Saddam Husein, tetapi ingin menguasai sumber minyak dan energi Irak yang melimpah ruah itu.

Kalselku Malang Kalselku sayang….

Dalam Indonesia Mineral and Coal Statistics, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun 2005, produksi batubara di Kalimantan Selatan, yang tercatat secara resmi pada tahun 2003 adalah 46.116.289,80 ton dan meningkat pada tahun 2004, yaitu sebesar 54.540.977,16 ton, dimana sebagian besar produksi batubara tersebut dihasilkan oleh perusahaan besar dengan modal asing (PMA), seperti PT. Arutmin dan PT. Adaro Indonesia. Jumlah produksi ini menyumbang sebesar 40,35% dari total produksi nasional sebesar 114.278.195,13 ton pada tahun 2003 dan 41,21% dari total produksi nasional sebesar 132.352.024,79 ton pada tahun 2004. Dan jumlah ini merupakan kedua terbesar setelah Kalimantan Timur yang memproduksi sebesar 57.693.479,71 ton pada tahun 2003 dan sebesar 68.396.462,38 ton pada tahun 2004. Kemudian tercatat penjualan domestik batubara Kalimantan Selatan pada tahun 2003 sebesar 13.153.674,52 ton dan pada tahun 2004 sebesar 14.666.467,21 ton, sedangkan untuk penjualan ekspor batu bara Kalsel pada tahun 2003 sebesar 32.805.818,99 ton dan pada tahun 2004 sebesar 34.499.239,35 ton (Sumber: Data Walhi)