Agustus 2008


Taman Sulthanah Ratu Safiatuddin Banda Aceh malam itu bertabur budaya Melayu, 13 Negara Melayu Serumpun berbaur rindu, ada apa gerangan? Ternyata Pekan Peradaban Budaya Melayu (PPMR) dibuka resmi diawali pukulan merdu bertalu Rapai Pase Aceh Utara oleh Menkokesra Aburizal Bakrie, seirama gendang melayu susul menyusul. Keramaian yang sejenak melupakan masyarakat Aceh bahwa sebelum MoU Damai Helsinki 3 tahun lalu Negeri Melayu ini dibalut konflik yang mencekam.

Pekan Melayu yang digelar tgl 20-25 Agustus 2008 ini memang dihadiri utusan dari 13 Negara Melayu Serumpun dan 20 propinsi di Indonesia. Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) tersaji apik melalui seminar Internasional DMDI, Pagelaran seni budaya melayu: lagu melayu, tari seman, tari japin, pameran foto, pameran potensi melayu. Syair puisi WS Rendra: Demi Orang Rangkasbitung seolah menghadirkan sosok Multatuli yang terkenal itu, tak kalah Penyair Aceh Fikar yang bergelora dan menghendak: Damai dengan Bismillah. Membahana lagi ”Takkan Melayu hilang di bumi”, begitu Hikayat Hang Tuah karya penyair Melayu Sumatera Pangeran Amir Hamzah. ’tak lapuk dek hujan ’tak lekang dek panas.

(lebih…)

Kebijakan dan pengelolaan energi nasional yang carut marut didakwa menjadi penyebab hancurnya lingkungan hidup dan ekploitasi membabi buta sumberdaya alam energi. Tak terkecuali di Kal sel, lubang-lubang besar bahkan kawah raksasa yang mengaga dan siap menelan anak negeri lalu tenggelam hilang tak berbekas. Truk-truk raksasa merajai jalan negera, melindas setiap yang bernyawa menjadi pemandangan mengerikan yang hanya terjadi di banua kita saja. Coba tanya penduduk di nusantara, adakah truk pengangkut hasil tambang yang bisa bebas melenggang dijalan raya ditempat mereka? Bahkan deru mesin industri yang seolah tak pernah henti disepanjang jalan negara, kecuali hanya terjadi di wadah kita Banua Banjar ngini haja, nang ai…

Kebijakan energi yang terlambat ujar kawan saya..! bahkan tak punya visi.. (lebih…)