Krisis BBM dinegeri yang kaya minyak nampaknya menjadi ironi yang menyakitkan bagi rakyat Indonesia. Perjalanan panjang saya dari kaki pegunungan Muller di perbatasan Kalteng sampai ke pesisir dataran rendah Banjarmasin nampaknya menjadi gambaran krisis BBM tersebut. Bayangkan antrian panjang mobil dan kenderaan masyarakat seakan tak putus-putusnya. Sudah antri berjam-jam di SPBU tapi belum tentu pas giliran anda bensin itu masih tersisa, walau hanya 1 liter. Bahkan berpuluh-puluh SPBU yang saya lewati hanya ada 2 SPBU yang antrian panjang dan SPBUnya sedang buka, selebihnya adalah antrian panjang tetapi pagar SPBUnya masih terkunci rapat…! bahkan beberapa mobil yang diparkir didepan SPBU itu menunjukkan ciri-ciri bahwa dia parkir disitu bukan hanya sehari atau dua hari, tetapi sudah berhari-hari tetapi BBM yang dinanti itu tak kunjung tiba.

Persoalannya? Carut marut BBM ini bermula dari Kebijakan Energi Nasional yang sangat tidak jelas. Energy kita termasuk BBM telah dikuasai oleh sekelompok orang yang bernama ”mafia minyak”. Nah, apa pulang istilah itu?.. Indonesia harus import minyak dari negara kecil Singapore, itu sangat lucu sekali. Kita keluar dari OPEC karena justru banyak mengimport daripada mengeksport minyak, aneh khan.. Kita jual minyak mentah ke ”negara makelar” Singapore lalu diolah dan kita beli lagi minyak itu dengan harga internasional..! aneh lagi khan. Ujar Pertamina lebih murah beli minyak dari Singapore daripada minyak mentah itu diolah didalam negeri, nah aneh lagi ini? Apa dinegeri ini tidak ada orang pintar dan tidak ada kilang industri yang bisa mengolah minyak itu. Toh setelah diusut ternyata tenaga kerja di Singapore itu banyak jua orang Indonesia lho, nah ini benar-benar aneh.

Apa gerangan BBM itu? Menurut UU No 22 tahun 2001 ttg Migas, BBM atau Minyak Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa cair atau padat, termasuk aspal, lilin mineral atau ozokerit, dan bitumen yang diperoleh dari proses penambangan, tetapi tidak termasuk batubara atau endapan hidrokarbon lain yang berbentuk padat yang diperoleh dari kegiatan yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi. Tetapi kita lupakanlah apa itu UU Migas atau makhluk bernama BBM yang lagi naik daun itu.

Pertamina sebagai otoritas yang diberikan kewenangan menurut UU migas ternyata tidak berdaya menangani persoalan ini. Disatu sisi Pertamina adalah operator yang ditunjuk, tetapi juga sekaligus regulator yang mengatur distiribusi dan harga. Tuntutan negara agar menghasilkan sejumlah uang untuk membiayai APBN sekaligus juga peran sosial menyalurkan BBM bersubsidi, itu sangat dilematis di manajemen perusahaan. Walaupun menurut UU migas sejak 2005 Pertamina bukan lagi satu-satunya operator, sehingga mulai bermunculan dikota-kota besar SPBU bukan warna merah dan abu-abu, tetapi warna kuning jingga punya SHELL, dan warna hijau putih punya PETRONAS Malaysia dengan harga standar Internasional atau harga keekonomian 12.500 per liter premium.

Skenario global menyebabkan harga minyak melambung menembus US$141 per barel seharusnya menguntungkan negara penghasil seperti Indonesia, nyatanya kita justru terseok, terperosok, megap-megap, dan rakyat pula yang menanggung beban ini semua. BBM harus naik, BBM harus langka, BBM harus membuat rakyat pusing 7 keliling. Program konversi minyak ke gas/elpiji ternyata menjadi buah simalakama, pasalnya gembar-bembor gas lebih murah dan lebih baik, ternyata gas juga mulai langka dipasaran, harganya melambung dari 79 ribu utk tabung ukuran 12 kg, masyarakat harus membeli dengan harga 110-120 ribu per tabung. Maboook pulang kita… wss