Hari itu 17 Juni 2008, waktu menunjukkan jam 10.45 WIB, dengan semangat 45 saya berangkat dari mess Rawamangun ke bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Niat untuk ke PRJ harus saya urungkan dengan alasan khawatir ketinggalan pesawat lion air JT236 tujuan Banjarmasin. Kulihat tiket itu berulang-ulang, boarding jam 15.30 semakin khawatir lah saya mengingat perjalanan di Jakarta susah diprediksi, ancaman kemacetan terus menghantui karena bisa datang tiba-tiba seperti air bah kiriman dari puncak Bogor.

Soal banjir ini saya punya kenangan tak terlupakan. Saya pernah terjebak banjir di jalan tol bandara km 26, air pasang laut naik 40 cm. Jelas sedan taxi tak berani menceburkan diri dan harus merangkak sepanjang 3 km. Maka jadilah kenyataan pahit, bayangkan saya berangkat jam 15 sore baru sampai di terminal 1A bandara jam 23 malam…! mak nyus pemirsa.. jelaslah saya sudah ketinggalan pesawat lion air itu. Bermalamlah dibandara yang dingin, dan malam itu juga harus berebut tiket agar bisa terbang besok paginya. Jangan tanya berapa harganya yang melambung 2x lipat. 1,1 juta saya bayar cash ditengah mencak-mencaknya penumpang lain karena harga yang mencekik leher itu. Betul-betul mau menang sendiri dan itulah gambaran tak manusiawi dunia penerbangan kita. Keterlambatan ini bukan disengaja, tapi karena bencana alam, tetapi pihak lion air tidak mau tahu, yah.. sudahlah, semoga menjadi pelajaran.

Namun apa mau dikata, kejadian hari ini justru kontradiksi dan bertolak belakang. Penumpang diwajibkan datang 2 jam sebelum keberangkatan, tetapi kejadian hari ini pesawatnya yang datang terlambat, bayangkan 4 jam dari jadwal..!

Jam 13.00 saya sudah sampai di bandara, berharap segera terbang dengan first playing lion air armada terbaru boeing 737-900ER, dan segera bertemu dengan putra kedua saya yang lagi sakit panas tinggi dan batuk rejannya yang ku dengan via handphone tadi pagi.. heh, apa yang terjadi diluar dugaan dan toleransi, saya kira hanya sekali penundaan, eh, tapi ternyata 3 kali delay.. Tak bisa kulukiskan jengkelnya penumpang diruang tunggu yang penuh sesak itu. Ternyata bukan hanya penumpang tujuan Banjarmasin, tetapi juga tujuan Palembang, Balikpapan, Solo, Surabaya, Medan dan Aceh. Caci maki tak terbendung lagi, semua perbendaharaan kata-kata kotor meluncur dari puluhan penumpang. Kemarahan yang wajar, tetapi bukan pada tempatnya melampiaskan kemarahan kepada petugas front line itu, semakin mereka menjawab dan berkelit maka semakin menjadi-jadilah kemarahan itu. ”Kami mohon maaf, karena alasan operasional maka pesawat anda mengalami keterlambatan 30 menit dari jadual menunggu pesawat dari Banjarmasin,” ..uuuuuuu.. serempak penumpang itu berpaduan suara. 30 menit itu ternyata telah berlalu 1 jam, dan terdengar lagi di pemberitahuan kedua, ”karena alasan operasional pesawat anda mengalami penundaan kembali selama 1 jam, karena menunggu pesawat dari palembang, nah lho..?? dan 1 jam berlalu tak terbayangkan kekacauan yang terjadi. Tiba-tiba pemberitahuan ketiga, ”kami mohon maaf kembali karena alasan operasional maka pesawat anda mengalami keterlambatan 30 menit lagi,”, bukan lagi paduan suara uuu.. tetapi caci maki dan lemparan botol aqua sodara..!!! Dan pilihan paling jitu adalah diam saja. Dan itu menjadi pilihan petugas agar caci maki itu tidak berubah menjadi huru hara seperti demonstrasi di monas dalam tayangan tv itu.

Saya bergumam: yah, lion tetap lion, sekalipun dibenci dan dicaci maki karena selalu terlambat atau tidak on time nya itu tetapi aneh, penumpangnya masih banyak dan tetap setia terbang bersama lion air. Saya dan mungkin anda juga adalah salah satunya.. heee.. Saya mengambil minum yang disediakan dan mulai mengunyah oreo yang coklat bangeet, daripada marah-marah khan. Kawan disebelah nyeletuk, yah.. tiket murah koq mau tepat waktu katanya frustasi dan tak punya pilihan. Liwar banar lion neh.. setelah 6 jam menunggu, akhirnya,”penumpang lion air tujuan Banjarmasin dipersilakan naik ke pesawat melalui pintu disebelah kiri dan kanan anda, sambil menunjukkan boarding pass anda”. PENUMPANG yang harusnya menjadi RADJA tak terbukti dalam penerbangan ini.