Urang Banjar di Manado, Bumi Nyiur Melambai – Jejak Banjar di Nusantara

Betapa terkejutnya ulun saat berkunjung ke Manado yang terkenal dengan Bunaken-nya, ternyata ada Kampung Banjar di Provinsi Sulut yang mayoritas non-muslim itu. Ada kawan ulun yang urang Arab Manado Riduan Asy-syawi yang menginformasikan bahwa ada tokoh Banjar yang menjadi Ketua MUI Sulawesi Utara. Beliau lah KH Fauzi Nurani al Banjari yang alumni Ponpes Pamangkih tahun 1967, beliau hijrah ke Manado tahun 1970 sebagai PNS Depag dan menyunting gadis Manado. Beliau tinggal di Kelurahan Mahawu Kec. Tuminting Kota Manado dan beranak pinak 4 orang yang semuanya sudah berkeluarga.

Saat bersilaturahim beliau berturut bahwa urang Banjar disini sudah kawin mawin dan membaur dengan penduduk setempat. Sebagiannya tinggal di Kampung Banjar, tetapi beliau tidak bisa menyebutkan berapa banyak komunitas Banjar di Manado dan sekitarnya. ”Sakampungan Banjar tu pang jar sidin”. Jejak migrasi ini diawali sejak zaman Belanda saat Pangeran Perbatasari dan keturunannya dibuang ke Manado. Dan ada seorang putri yang konon ujarnya menetap di Kota Bunga Tomohon. Saat ulun ke Tomohon betapa kaget dan takzimnya, di Kota pusat misionaris dengan pusat-pusat perkantoran Gerejani yang terbesar di Indonesia, ternyata pintu gerbang masuk kota itu adalah sebuah Ponpes Hidayatullah. Di kota inilah konon sang putri banjar menetap dan selanjutnya kehilangan jejak rekam sejarahnya. Perjalanan

Di Manado ada pengajian rutin bubuhan Banjar yang mereka namakan Perkumpulan Pengajian… mayoritas bubuhan Hambuku Amuntai jar sidin. Ada beberapa tokoh Banjar diantaranya Wakil Walikota Manado Bapak Abdi Buchary yang keturanan Banjar, KH Rizali M Noor (Pengasuh Ponpes/Ma’had PKP Depag), Bapak Makruf (Kadisnaker Manado), KH Hasyim Hasan, dll.