Seni dan berkesenian merupakan ekspresi budaya yang memperhalus akal budi dan ciri jati diri sebuah bangsa. Urang Banjar yang berbudaya punya hak asasi untuk eksis dan diakui oleh suku bangsa diseluruh dunia. Wadai bingka, kakicak, kakoleh, gaguduh, sarabi, apam batil, apam barabai, bingka barandam, atau silakan haja ke warung 41 di Cempaka, 41 macam wadai ada disana. Hanya Soto Banjar dan kain sasirangan yang sudah menjadi ikon wisata kuliner dan souvenir di Banua Kalimantan Selatan. Itu baru budaya kuliner tradisional Banjar. Belum lagi budaya kesenian seperti Mamanda, Balamut, Madihin, Wayang Banjar, Musik panting, dll. Rumah Banjar dan relief Banjar di bangunan pemerintah atau swasta sudah mulai nampak ornamennya. Bahkan monumen budaya Banjar yang sesungguhnya belum ada, seperti dulu Kuin dan Sungai Andai adalah kampung Budaya, dulu sepanjang jalan A. Yani km 1 sampai km 6 adalah landmark kampung Banjar yang sungainya lebar dan bisa dilalui jukung. Manna banjarnya jar? Kalau naik angkot di Padang kita diringi lagu Minang, tapi kita tidak temui lagu Banjar di angkot taxi kuning, apalagi mancari sungkul awan batulis, he he..
Untuk melestarikan budaya dan kesenian banjar tersebut Raperda ini mewajibkan pemilik/pengelola hotel dan restoran menampilkan kesenian Banjar di lobi hotel atau tempat khusus yang bisa disaksikan pengunjung, baik pentas maupun musik. Rasanya hanya 1 atau 2 hotel yang sudah menampilkan musik panting di lobi hotelnya. Raperda memberi toleransi 6 bulan sejak diundangkan untuk dipatuhi oleh hotel dan restoran.
Raperda ini juga menjadi supporting system suksesnya Visit Kal Sel 2009. Perlu dukungan semua pihak saya kira termasuk kerjasama dengan pemda lain yg menjadi pintu gerbang, seperti DKI Jakarta, Jatim, Sumut, Sumbar, Jogjakarta, Bali, Sulsel, dan Sulut, travel agent secara nasional, event organizer, hotel berbintang, dan pintu gerbang di airport. Di bandara kita belum tersedia brosur visit Kal Sel dan info wisata Kal Sel. Ini haja lah mungkin ada yang memberi masukan supaya budaya Banjar kada hilang dibumi…
Februari 16, 2009
Februari 16, 2009 at 11:59 am
Memang harus ada perda yg mengatur seni dan budaya banjar agar dapat dinikmati anak cucu kita…
kada ku rela akan budaya banjar hilang di atas bumi ini,gawi manuntung waja sampai kaputing.
Februari 18, 2009 at 5:05 am
Sepakay Penuh Apa yg Pian Tulis. Tetapi Raperda Saja Tidak Cukup Tanpa Ada Tindak Lanjut Preventif Jika Hakikatnya Ingin Budaya Banua Ini Ada di Setiap Hati Masyarakatnya.
Mudahan kita Bukan Orang yang Dominan Hanya Bermain DI wilayah Simbol-simbol Saja
Februari 19, 2009 at 11:13 am
skrg di tempat kita udh hilang budaya banjarnya….skrg budaya kita udh diiringi dengan musik beraliran Xtrem….bweeeeeekkk…
saya sebagai org EO…mengangkat nama budaya kita yang semakin hilang…salam knl…dan selamat bergabung di Aruh Blogger……
bubuhan Kayuh baimbai jua nah…whiera……..
Februari 28, 2009 at 2:04 pm
Saya setuju dengan adanya raperda ini, supaya seni Banjar tidak hilang di kampung sendiri, …
Maret 13, 2009 at 11:25 am
ulun umpat mendukung…
salam dari bubuhan Kayuh baimbai jua, dan bubuhan gema keadilan jua
April 30, 2009 at 6:34 am
satuju bnr…dgn pmbngunan yg maju saat ini mbuat Kota BJM jdi kota yg kumuh&macet.cba klo bdya bnjar diangkat kekantor/keMall naik trasportasi jukung/klotok insyaAllah ngak d macet….
slam dr dinsanak Bangkumpai Seribu Riam…he