60 jenis perizinan dilayani satu pintu: mulai IMB, HO, SIUP sampai ijin Kuasa Pertambangan dilayani hanya oleh 20 orang, itulah Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PPTSP) Kota Cimahi.
Soal pelayanan public. Dalam lingkup yang lebih praktik di masyarakat ketika berurusan dengan kelurahan atau desa pernahkah anda mengurus KTP atau Kartu Keluarga? Berapa lama anda harus menunggu untuk mendapatkan KTP atau KK tersebut? Kalau yang ingin cepat langsung “tembak ditempat”.. ! tinggal setor 30 ribu atau lebih besoknya KTP anda sudah selesai. Tapi tahu kah anda bahwa ada penduduk yang harus menunggu 1 tahun lebih..!! hanya untuk mendapatkan “katepe” itu. Yah macam-macam alasan dari petugas kelurahan itu.. Komputer macet lah, blangko habis lah, lagi diurus di kantor camat lah, de el el.
Dibeberapa tempat sudah mulai ada perbaikan. Media Indonesia menuliskan di Sragen lebih cespleng lagi. Jika semua persyaratan lengkap anda tak perlu menunggu lama, cukup 5 menit…!!! Anda sudah dapat KTP dengan harga terjangkau, sudah standar, dan dilayani dengan ramah. Mudah bukan? Ulun membayangkan itu terjadi di banua kita, tetapi ternyata masih jauh dari kenyataan. Inspektorat provinsi Kal sel ketika ditanya tentang Good Governance khususnya pelayanan publik ini menjelaskan, kita pa sudah menghadirkan Kepala PTPS Sragen ke Banjarmasin saat pelatihan kemaren..!
Nah, ahlinya sudah datang, ilmunya sudah dikuasai, tapi kapan realisasinya?? Kalau meniru sebuah iklan itu, MANNAAA EKSPRESSINYAAA? Kunci pelayanan publik yang cepat, murah, dan ramah itu ternyata ada pada kemauan aparat, bukan pada embel-embel lainnya. Dan itu bermula pada mainset, sikap moral untuk melayani. Mentalitas birokrasi yang ingin dilayani menjadi penghalang pelayanan publik ini. Harigini masih mau dilayani? Sorry men.. Dunia sudah berubah, nanti kita buatkan Perda Pelayanan Publik dulu kata Ketua Komisi 1 DPRD Kal Sel. Apa iya.. kalau yang ada dikepala aparat masih bersemayam kaidah ”jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah” maka tak usah lah ente berharap reformasi birokrasi ini berjalan ke arah yang benar.
April 18, 2008 at 9:46 pm
Islam itu mudah, tapi kenapa birokrasi kita jadi super sulit, ini pasti karena ujung-ujung nya duit.
)
Di dunia swasta, pelayanan cepat akan menumbuhkan market dan profit.
Di pemerintahan, pelayanan lambat dan sulit, mendatangkan banyak duit
Ulun dukung semangat pian untuk mereformasi birokrasi nang super sulit saat ini.
April 21, 2008 at 6:12 am
Berbicara mainset dan birokrasi dalam hal ICT atau TIK maka yang belum pernah dilakukan oleh pemerintah daerah adalah menetapkan keyakinan untuk meningkatkan pelayanan publik memanfaatkan teknologi.
Coba lihat satu persatu belum ada satu daerahpun di Kalsel khususnya yang mempunya sebuah dokumen perencanaan pengembangan TIK secara terpadu.. ini yang menyebabkan Pemda bisa tarik ulur.. klo masih perlu dijalankan kalo tidak ya didiamkan..
Nanti klo ada tuntutan masyarakat bangun aplikasi secara parsial.. yang terjadi pemborosan..
Kab. Banjar bisa berhasil menjalankan eprocurement karena telah disusun sebuah masterplan pengembangan TIK hingga 2010 mendatang sehingga jelas arah pengembangan TIK mau kemana..
April 27, 2008 at 5:37 am
Iya nih. Pengalaman mengesankan ini juga saya dapatkan saat mengunjungi Sistem Pelayanan di Sragen bersama salah satu Kepala Kantor di Banjarbaru.
Tidak ada yang salah kalau harus meniru hal yang baik bagi publik. Kenapa tidak?
Juni 19, 2008 at 1:41 pm
Memang susah meolah PPTSP, ada komitmen dr Pimpinan Daerah utk bikin pelayanan satu pintu,.. tp jendelanya malah banyaak
Juli 21, 2008 at 4:11 pm
Ass. sebenarnya eksekutif dan legislatif di Kalsel ini sudah banyak sekali belajar, study banding tentang one stop service yang sampai pada satu kesmpulan bahwa konsep tersebut cukup bagus dan ideal. Tinggal mau atau tidak kita mengimplemenatasikan. Dan kata kuncinya sebenarnya adalah ada atau tidak adanya komitmen dari top manajer. Kalau yang dibawah Insya Allah mau ngikut apa yang dimaui oleh yang di atas.
Saya kebetulan beberapa waktu lalu sempat ngelihat one stop service ala Sragen, Jawa Tengah. Luar biasa, …….
Kalau Sragen bisa mengapa kita tidak, ….
Wass.